Tetes Air Mata Ibu Menguatkanku
Saya ingat masa-masa indah bersama
ibu. Waktu kecil, saya dekat dengan ibu. Tentu saja kita semua memiliki
kedekatan dengan ibu, kecuali mereka yang diasuh oleh kakek/nenek atau baby sitter.
Kedekatan itu sejak awal dirasakan saat saya menikmati ASI. Dari air
susu ibu itulah saya bertumbuh dan berkembang hingga saat ini. Kata para
ahli, anak yang kekurangan ASI memiliki pertumbuhan kurang sempurna
dibanding anak yang asupan ASI-nya banyak.
Kedekatan dengan ibu amat terasa sebelum mengenyam pendidikan dasar.
Ketika kakak dan bapak ke sekolah, saya hanya ditemani ibu. Ibu selalu
setia menemani saya. Kadang-kadang saya mengganggu pekerjaannya, namun
tak pernah saya melihat dan merasakan kebencian ibu kepada saya. Ibu
memang mencintai anak-anaknya termasuk saya. Ketika pulang sekolah saya
bermain dengan kakak saya. Kadang-kadang kakak memarahi saya, dan saat
itulah saya berlindung kepada ibu. Begitu juga ketika bapak marah, ibu
selalu menjadi tempat perlindungan.
Apakah ibu pernah marah? Tentu saja. Tetapi marah bukan karena benci,
tetapi karena cinta. Cinta ibu untuk anaknya. Saya pernah dimarahi
gara-gara tidak mengerjakan tugas yang dipercayakan kepada saya. Hal-hal
sederhana, sesuai kemampuan saya waktu itu. Mencuci piring, memasak,
atau memberi makan kepada peliharaan kami. Dari marah ini, saya sadar,
betapa ibu mencintai saya.
Ibu juga yang menyemangati saya dalam pendidikan. Sebelum sekolah, saya
belajar bersama ibu, setiap malam. Kami membuka buku gambar, lalu ibu
menjelaskan tulisan yang ada di gambar itu. Di tempat belajar itu, ada
poster besar berisi huruf abjad berukuran besar dan angka-angka dari
1-100. Ada juga perkalian, pembagian, penjumlahan, dan pengurangan.
Poster itulah sarana pembelajaran kami. Sesekali ketika saya bosan, ibu
membuka buku gambar, atau bercerita. Tujuannya sederhana, untuk
menyemangati saya. Kadang-kadang saya tertidur karena cerita yang
terlalu lama. Kebiasaan belajar bersama ibu, berkembang terus hingga
saya selesai SD. Pekerjaan rumah selalu dikerjakan bersama. Sesekali
dengan bapak dan kakak. Namun, seringkali bersama ibu. Ibu juga yang
menguatkan saya untuk belajar menyelesaikan sekolah dasar.
Kedekatan ini begitu kuat sampai-sampai ibu merasa sepi ketika, saya
tinggal jauh darinya. Ibu meneteskan air mata ketika saya dan bapak
pergi ke kota kecamatan untuk melanjutkan pendidikan menengah, SMP. Saya
memandangnya sebentar sebelum mobil kami berjalan. Ibu menangis sambil
memeluk adik saya dan melambaikan tangan, merelakan saya pergi. Saya
tahu, ia dengan berat hati melepas kepergian saya. Namun, bagaimana pun
saya mesti bersekolah. Air mata itu menetes lagi ketika saya melanjutkan
pendidikan ke kota kabupaten yang letaknya semakin jauh dari rumah. Ibu
hanya berpesan, “Nak, belajarlah dengan rajin dan berbuat baiklah
dengan sesama.” Pesan itu begitu menggema hingga saya ingat sampai
sekarang.
Selama pendidikan menengah, saya jarang pulang ke rumah. Hanya 2 kali
setahun, pada saat liburan panjang. Ibu tidak marah. Saya selalu
mengirim surat minimal sekali dalam dua bulan. Komunikasi kami waktu itu
hanya melalui surat. Ibu senang membaca surat saya. Tiap kali teman
sekolah saya berkunjung ke rumah, ibu tersenyum sebelum mempersilakan
teman untuk duduk. Ibu tahu, pasti ada surat dari saya. Kegembiraan ibu
lebih besar ketika saya kembali saat liburan. Saat itu biasanya, ibu
berlama-lama bercerita dengan saya. Kebiasaan ibu ini berlaku untuk
semua kami, anak-anaknya. Kami berasal dari desa dan harus melanjutkan
pendidikan menengah ke kota.
Waktu liburan adalah kesempatan emas untuk mengobati rasa rindu ibu.
Saat hendak kembali ke sekolah, selesai liburan, air mata ibu jatuh
lagi. Ini pertanda dia mencintai anak-anaknya. Dengan sabar, dia
menyiapkan bekal secukupnya berupa makanan ringan, dan menyelipkan uang
saku secukupnya. Ibu lalu berpesan, “Nak apa saja yang kalian minta-asal
itu demi pendidikan-kami akan memenuhinya. Kalian harus sekolah dengan
baik. Jangan khawatir dengan hidup kami di rumah. Kami mempunyai banyak
makanan untuk kebutuhan sehari-hari.” Pesan ini menguatkan saya untuk
terus belajar hingga akhir masa SMA.
Ibu merasa berat sekali ketika saya harus melanjutkan pendidikan ke
tempat yang lebih jauh lagi. Namun, ia tetap mendukung. “Asal itu
kemauan kamu, silakan pergi, kami akan mendukungmu,” kata ibu waktu itu.
Saya mengarungi lautan untuk pertama kalinya. Saya dan ibu tinggal di
pulau yang berbeda. Lagi-lagi air mata ibu menetes lagi. Saya juga
meneteskan air mata. Saya tak tahan melihat air mata ibu kesekian
kalinya. Kami berpelukan sebelum saya meninggalkan rumah. Seminggu
kemudian, ibu menelepon saya, menanyakan keadaan saya di tempat yang
baru. Saya bahagia dan ibu senang mendengar cerita saya. Dia sempat
tertawa karena saya bercerita membuat lelucon layaknya di rumah .
Sebelum menutup pembicaraan ibu menangis lagi, sambil menyerahkan gagang
telepon kepada bapak.
Ibu merupakan sosok yang besar bagi saya. Apa yang dibuatnya murni untuk
kebaikan kami anak-anaknya. Saat kami sakit, ibu yang huru-hara mencari
bantuan ke tetangga. Saya ingat ketika saya sakit, ibu pergi ke rumah
bidan pagi-pagi buta. Untung saja adik saya yang paling kecil tidak
menangis mencarinya. Adik masih terlelap ketika ibu berangkat. Hebat!
Perjuangan ibu sungguh luar biasa. Terlalu indah mengenang kebersamaan
bersama ibu. Sekian tahun kami hidup berjauhan. Namun, kami sering
berbagi cerita. Saat yang dinanti adalah masa liburan. Terima kasih ibu,
kasihmu selalu kukenang, cintamu begitu besar, dan jasamu luar biasa.
Tetes air matamu menguatkan saya dalam hal apa pun termasuk dalam
menghadapi tantangan. Terima kasih ibu….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar